Senin, 27 Juli 2020

Semester Dua

Dua pekan ini adalah masa Ujian Akhir Semester di kampusku. Sedikit melelahkan dan menguras perasaan, sih. Kenapa? Ya, tentu saja karena sistem online ini. Adaptasi mendadak yang sempat membuatku drop di awal-awalnya. Aku baru sempat menyentuh blog saat akhir pekan. Sebenarnya hanya pelarian, karena aku malas belajar. Aku merasa tidak memiliki semangat dan motivasi untuk menatap layar monitor berjam-jam setiap harinya.

Kalau kemarin aku berkata bahwa aku sedang senang-senangnya melakukan pekerjaan rumah. Kali ini, haha, aku sudah bosan. Aku bosan berkutat dengan ruangan sempit ini. Ya, sebenarnya tidak sempit juga. Namun, pergerakanku seolah terbatas karena ada orang lain. Entah kenapa, aku benci saat aku melakukan sesuatu dan ada orang lain di sekelilingku. Sepertinya aku hidup layaknya kucing. Aku merasa, aku memiliki wilayah teritorial sendiri. Ah, tidak lah. Mungkin aku hanya sedang bosan saja.

Draft ini tidak kusentuh selama hampir sebulan. Lalu sebulan ini ada apa saja? Ya, tetap tidak ada apa-apa. Hehe, nungguin, ya?

Aku merasa, perkuliahan daring ini menguras tenaga dan pikiranku mungkin 40-50% lebih banyak daripada biasanya. Batas-batas dalam hidupku menjadi buram. Waktu yang kupakai untuk istirahat berubah menjadi waktu untuk memikirkan dan memahami kembali materi dari dosen. Ya, memang terdengar bagus saat kuliah tidak perlu lagi repot-repot bersiap untuk ke kampus, sarapan, berpakaian rapi, dan sebagainya. Namun, aku kuliah bahasa. Aku perlu dan sangat butuh penjelasan tatap muka. Walaupun bisa belajar sendiri, aku merasa ini sangat melelahkan. Kita semua juga butuh motivasi untuk melakukan sesuatu. Dan lagi-lagi aku sial karena aku tidak menemukan motivasi itu selain di kelas. Sedari kecil, alam bawah sadarku berkata bahwa kelas adalah tempat untuk belajar, dan rumah adalah tempat untuk beristirahat. Sayangnya pandemi ini ternyata benar-benar terjadi dan bukan candaan belaka.

Aku sedih, kesal, bosan, bercampur marah. Dan kondisi seperti ini memperparah kesehatanku baik secara fisik maupun mental. Hampir setiap pagi aku selalu flu, dan anemia semakin parah. Pola hidup selama kuliah online yang memaksaku terikat dengan kursi dan meja ini seakan membuatku lengket dengan kamar, dan itu buruk bagiku. Aku selalu melewatkan sarapan, bahkan sekadar untuk menggerakkan badan agar tidak kaku. Sudah beberapa bulan terakhir ini aku sering mengalami sakit migrain, sakit punggung, anemia, stres, dan hal-hal buruk lainnya.

Aku sangat benci dengan keadaanku yang seperti ini.

Hidupku setelah Desember 2019 sebenarnya terasa seperti mimpi. Aku masih sering tidak bisa tidur dan menangis tanpa sebab yang jelas. Setiap aku pergi ke manapun, hatiku tidak bisa merasa tenang seutuhnya. Betapa kehilangan telah merusak seluruh hidup dan pikiranku. Aku merasa aku adalah orang yang gagal, tidak berguna, dan lebih sering menjadi beban.

Aku bukan orang yang sangat dekat dengan keluarga dan saudaraku. Kedekatan itu tidak berarti personal bagiku. Mungkin karena diantara kami, jarang ada penunjukan afeksi atau rasa sayang yang bisa dilihat kasat mata. Tetap saja, aku merahasiakan sebagian perasaanku untuk aku simpan sendiri, atau untuk aku luapkan di media tertentu. Aku merasa, jika aku mengatakannya pun, tidak ada yang mengerti atau mau mendengarnya.

Akhir-akhir ini, aku punya seseorang yang baik kepadaku. Dia baik, mau mendengarkan masalah yang kuceritakan, terkadang juga memberi solusi yang baik untukku. Intinya, dia orang yang baik. Aku benar-benar merasa hangat. Tapi, aku terkadang ragu untuk menyapanya. Aku takut itu akan mengganggunya. Namun,aku rasa itu tidak apa-apa, selama perasaannya tidak berubah kepadaku, begitupun sebaliknya. Kalau ia membaca paragraf ini, sebenarnya aku akan sangat malu, haha. Aku malu dengan kepolosanku terhadap cara memandang dunia. Terima kasih, ya. Aku sangat berharap ini akan berlanjut selamanya.

Dan hasil perkuliahanku selama semester dua kemarin.. Bagaimana, ya? Sebenarnya aku sedikit puas karena ada berbagai peningkatan di beberapa sektor. Adaptasiku pun sudah semakin lancar. Teman-temanku semakin banyak dan sejujurnya aku senang. Aku sedikit lebih memahami diriku sendiri. Memahami kemampuanku, batasan-batasan hidupku, apa yang aku suka, apa yang harus aku lakukan. Banyak, deh. Tapi aku kecewa dengan satu hal yang tidak bisa aku utarakan di sini. Ya, memang salahku sendiri. Namun aku merasa, aku masih ingin dan sepertinya bisa memperbaikinya lagi.

Keseluruhan semester duaku kali ini sangat bermacam-macam rasanya dan mungkin tidak akan kurasakan di fase-fase hidupku yang lain. Walaupun aku juga sebenarnya berharap bahwa pandemi ini hanya mimpiku saja. Aku sangat rindu dengan suasana normal yang bisa aku rasakan selama 19 tahun aku hidup. Aku ingin bertemu teman-temanku, berkumpul bersama, bahkan untuk sekadar berjalan di trotoar kampus saat kelas sudah berakhir. Dan apapun hasil yang aku dapat di semester ini, semoga itu semua memberi pelajaran dan cerita yang berharga untukku nanti.

Setelah UAS selesai, aku memang sedikit menghindari penggunaan laptop. Selain karena laptopnya yang suka delay, aku juga entah mengapa merasa jenuh dan stres saat melihat tulisan di layar monitor. Mungkin karena efek UAS yang menekan, sehingga rasanya seperti tidak ingin lagi berkutat dengan ini semua. Oke, terdengar berlebihan  namun itu memang benar yang aku rasakan.

Aku juga mulai mengurangi penggunaan headset karena aku malah merasa semakin bising dan sendirian. Aku merasa, sesuatu yang dulu sangat menghiburku, sekarang malah berbalik seperti bumerang bagiku. Mungkin karena frekuensi penggunaan yang semakin tidak terkontrol, ya.

Seperti orang-orang lain pada umumnya, sore hari ini aku akan bersepeda. Sendirian. Menyedihkan, ya? Tapi tidak apa-apa, sih. Rute bersepedaku kali ini semakin panjang, aku senang sekali. Setidaknya ada satu kegiatan yang membuatku beranjak dari rumah untuk melihat dunia di luar sana.

Semoga di semester tiga nanti, hidup dan perkuliahanku bisa berjalan seimbang.

By the way, aku sangat rindu Surabaya! :(