Senin, 06 April 2020

Hidup Untuk Apa?

Memasuki hari karantina #DiRumahAja sampe bosen hari ke-19, kali ini aku (mungkin) menemukan sesuatu yang hmm... kamu tahu? suara kokoro yang terpecah belah.

Tidak. Bukan itu.

Saat ini, mungkin aku telah sedikit mengerti dan paham bagaimana caranya hidup seperti orang dewasa. Kembali ke rutinitas yang sama berkali-kali tanpa ada sesuatu yang menarik. Yah, mungkin ada. Namun tidak sesering saat kita masih dalam masa pertumbuhan.

Kalian mungkin menganggap ini hanyalah tulisan yang sangat tidak penting dan tidak berpengaruh bagi kehidupan kalian karena, ya, MEMANG SEPERTI ITU KENYATAANNYA.

Hehe, selamat kalian telah membuang waktu beberapa menit untuk loading ke arah website, lalu kemudian membaca rangkaian huruf dari judul, satu persatu sampai di titik ini. Yah, sedikit melelahkan memang.

Berita yang mengejutkan di sini adalah; anehnya, aku mulai nyaman dan senang melakukan pekerjaan rumah. Bukan, bukan tugas Filsafat dari Pak Moses yang membuatku pusing itu (Tapi, ya, sudahlah). Tapi, pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel lantai, mengelap perabotan, sampai memasak, membuang sampah, dan sebagainya.

Yah, walaupun wawasan dan skill memasakku mungkin masih di bawah rata-rata.

Cukup mengagetkan buatku sendiri, karena dari dulu aku mungkin bisa dikatakan sedikit kesal dengan pekerjaan-pekerjaan seperti ini. Tapi, sekarang aku malah menikmatinya. Kesal juga awalnya, "Kok, aku jadi suka seperti ini?" seperti lirik lagu idol nasional. Aku baru menyadari kalau melihat rumah kita terlihat bersih, hati juga terasa nyaman dan senang melakukan aktivitas, seperti rebahan contohnya. Ini serius, saat rumah atau lingkungan bersih, mungkin aku yang awalnya malas, seperti malas mengerjakan course tambahan dari dosen, malas keluar kamar, malas makan, malas mandi, dan sebagainya (Ya, aku memang pemalas). Awalnya mungkin aku akan memaksa diriku untuk mengerjakan, tapi yang selanjutnya aku rasakan adalah rasa nyaman, kecuali saat ujian.

Tapi, tentu saja aku tidak akan mendaftar untuk layanan Go-Clean.

Aku juga sudah mulai tidak merasa jijik atau apapun dengan sampah-sampah ini (terutama di dapur) karena, ya, TENTU SAJA ITU SAMPAH DI RUMAH SENDIRI. Kecuali tiba-tiba ada muntahan koala di dapur, kemungkinan besar aku akan merasa jijik.

Aku tidak tahu perasaan macam apa yang menghinggapi tubuhku saat ini. Tapi, dengan adanya karantina mandiri karena Coronavirus ini, aku perlahan (sedikit banget, sih, mungkin) menjadi orang yang menghargai dan merawat apa yang aku miliki. Aku fokus dengan kegiatan spiritualitas (ibadah) dan bercengkerama dengan keluarga. Walaupun sebenarnya masih mikirin tugasnya Pak Moses.

Aku merasa, walaupun sebenarnya khawatir juga dengan keadaan ekonomi rakyat yang semakin menurun ini, setidaknya, aku sudah jarang mengkhawatirkan diri dan perasaanku sendiri seperti overthinking dan sebagainya.

Keadaan ini mungkin akan berbeda jika aku berada di kost. Mungkin aku akan makan makanan yang sama dan tidak sehat setiap hari, mungkin aku akan lebih malas lagi untuk keluar kamar dan mencari sinar matahari, mungkin spiritualitasku akan mulai goyah sedikit demi sedikit, mungkin aku hanya akan tidur seharian. Yah, walaupun sebenarnya aku rindu sekali dengan 'tidur seharian' ini.

Karantina ini sedikit banyak mengubah diri dan pandanganku terhadap hal lain.

Jadi, kapan Covid-19 Apocalypse ini akan berakhir? Aku rindu kamar kost!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar