Senin, 17 Desember 2018

Nasionalisme?

Biar saja ku tak seharum bunga mawarTapi slalu kucoba tuk mengharumkanmuBiar saja ku tak seelok langit soreTapi slalu kucoba tuk mengindahkanmu
Kupertahankan kau demi kehormatan bangsaKupertahankan kau demi tumpah darahSemua pahlawan-pahlawanku


Merasa tidak asing dengan lagu ini? Ya, lagu dari Cokelat ini mungkin adalah salah satu lagu yang menggambarkan kobaran semangat nasionalisme di tengah kawula muda.

Semangat masih merupakan bagian penting dari nasionalisme dan patriotisme. Kini, apakah masih dapat dengan mudah kita temukan di lingkungan sekitar?

Dengan adanya arus globalisasi yang sangat cepat ini, dimana kita bisa pesan mie ayam hanya dengan beberapa sentuhan di layar gadget, saya mengakui sulit rasanya mencari rasa nasionalisme dan patriotisme dapat ditemukan.

Bisa dilihat dari pola konsumerisme, westernisasi, sikap apatis, dan hedonisme yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Saya bersyukur karena akhirnya ilmu Sosiologi dalam buku paket tidak sia-sia. Hehehe...

Sejujurnya, 2-3 tahun lalu, saya kurang dapat memahami ilmu sosiologi karena kurangnya contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kurang piknik sepertinya.

Tapi, sekarang? Wah, paling relate dengan kehidupan sehari-hari. Sampai saat pergi ke suatu tempat, sering terbesit dalam benak saya, "wah, ini contoh konsumerisme, hedonisme, dan semacamnya, ya...".

Sekarang ini, gaya hidup individualis dan apatis sepertinya sedang trend, tak dapat dielakkan ini adalah salah satu dampak tersebarnya paham liberalisme yang mengatasnamakan kebebasan.

Tantangan-tantangan ini tentu harus menjadi perhatian di masa sekarang. Terancamnya jati diri bangsa dan terkikisnya nasionalisme-patriotisme merupakan bentuk nyata dari dampak negatif globalisasi. Memang bukan hal yang mudah untuk membendung ini semua. Namun, jika terdapat kemauan dan tekad yang kuat, ini bukanlah masalah yang sulit.

Persatuan dan kesatuan bangsa harus kembali digalakkan. Adanya tahun politik dan penyebaran berita hoax menambah pelik permasalahan.

Kita harus segera bangkit!

Mulailah peduli dengan lingkungan sekitar, mulailah bercengkerama (tentunya membicarakan hal yang bermanfaat dan ora julid tok isine) dengan tetangga, carilah teman berdiskusi, rancanglah rencana-rencana dan impianmu untuk dirimu, bangsamu, dan negaramu.

Buat dirimu menyatu dengan Indonesia.

Beri aku sepuluh pemuda,niscaya akan kuguncangkan dunia.-Ir. Soekarno

Rabu, 10 Oktober 2018

Aku, Tidak Normal?

Hari ini pelajaran olahraga. Semua nampak bersemangat. Aku pun juga bersemangat. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu pelajaran yang menyenangkan.

Tapi, aku punya masalah. Kelainan di tulang belakang membuatku tak leluasa menggerakkan tubuh. Aku mengetahuinya saat kelas XI. Sungguh menyedihkan awalnya. Yah, sampai sekarang masih terdengar menyedihkan sih.

Jadi, aku adalah penderita skoliosis. Memang tidak terlalu besar sih derajat kemiringannya. Tapi ini benar-benar membuatku tidak percaya diri. Tulang belikat yang tidak sama. Mata yang tidak sama. Tubuh yang kurus, karena nafsu makan sedikit. Sering sakit-sakitan. Haha, you can call me whatevs you want.

Awalnya dari sejak lama sekali aku menyadari tulang belikat yang tidak sama. Apalagi saat 'nyender', terasa sekali. Tapi aku bersikap biasa saja karena memang aku tidak tau. Mataku tidak sama, mungkin tidak terlalu kelihatan. Tapi.. Ini terasa sekali saat aku memakai kacamata atau foto di HP. Aku mulai merasa ada sesuatu yang salah. Tidak seharusnya seperti ini.

Sampai pada suatu hari, saat praktek shalat di MI..
Ternyata aku tidak bisa ruku' dengan posisi 90 derajat seperti teman-teman lain. Di punggungku ada punuknya. Aku bingung, aku kenapa? Dan itu ditekan-tekan sama guru. And it's totally hurts. Aku mencoba buat melupakan itu.

Kedua kalinya, praktek shalat di MTs..
Masih berlanjut. Masih tidak bisa ruku' dengan posisi seperti teman-teman yang punggungnya lurus semua. Punggungku masih ada punuknya. Dan ditekan-tekan lagi sama guruku, dan tentu saja rasanya lebih sakit. Aku menangis, sedikit. Aku malu. Kenapa aku begini?

Satu siang bolong saat kelas XI. Ibuku semakin menyadari ada yang salah dengan punggungku. Perbedaan tulang belikat yang cukup terlihat apalagi kalau salah pilih baju. Saat itu Ibu sudah menawarkan untuk pergi ke dokter. Tapi aku menolak dengan alasan "masih banyak yang harus dikerjakan, buang-buang waktu nunggu dokter yang gak jelas." karena yah, April baru operasi. Masa September sudah main ke rumah sakit lagi?

Setelah berminggu-minggu, akhirnya aku mau diperiksa ke dokter. Dengan catatan, meninggalkan semua tetek bengek sekolah dan ekskul yang mau punya hajat. Yah, gak apa-apa deh. Biar tau apa yang salah sama diriku.

Sehari.. Belum ketemu dokter.
Dua hari.. Bertemu dokter, ruang rontgen tutup.
Tiga hari.. Proses rontgen dan diagnosa.

You know what? Aku nangis sejadi-jadinya. Lihat tubuhku yang gak sempurna. Aku hancur. Aku malu. Aku bingung. Aku nggak tau harus cerita ke siapa. Aku di titik terendah setelah ditekan dimana-mana. Sekolah, rumah, teman, semuanya.

Bahkan dokter memberi surat rujukan untuk dibawa ke suatu RS di Malang yang aku tau, harganya gak murah sama sekali. Aku ngerasa gak berguna banget dan cuma nyusahin orang-orang di sekitarku. Aku merasa kayanya kalau kemarin-kemarin aku mati sepertinya akan lebih baik.

Orang tua mulai menekan, dan sampai bilang, "Kamu tuh sakit mulu, apa nggak kasihan sama bapakmu?"

Dari situ aku berpikir, aku nggak minta diciptakan buat sakit-sakitan kaya gini. Aku mulai jahat sama diri sendiri. Setiap hari aku 'dengan sengaja' nyiksa diri sendiri dengan kegiatan yang padat, tekanan-tekanan dari sekitar, pertemanan yang tidak baik, ngerusak pola makan dan tidur, dan bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri.

Saat itu aku merasa kalau aku mati, semuanya akan jadi lebih baik.

Tapi, sepertinya tidak.

Akibat pola hidup selama 1-2 bulan 'toxic' abis-abisan, untuk pertama kali maag kambuh dan parah.

Pada akhirnya, ya berobat lagi. Ngabisin duit orang tua lagi. I'm done.

Langsung saat itu, entah kenapa aku mulai berubah. Kalau sekarang aku masih nyusahin orang lain, setidaknya besok aku tidak akan seperti hari ini. Walaupun sampai saat ini masih saja menyusahkan orang lain di sekitar.. Tapi aku tetap berusaha.

Semua berimbas ke nilai akademis. Hancur sehancur-hancurnya. I'm totally broken. Merosot jauh dan (katanya) sampai jadi bahan desas-desus guru di ruangnya. Oh, I'm insane.

Perlahan, aku mulai mau untuk berubah. Berusaha meninggalkan semua 'depresi-depresi' itu bagaimanapun caranya. Me time, refleksi diri, do something crazy, dan lain sebagainya. Walaupun sampai sekarang masih tetap sakit-sakitan, setidaknya tak usah bertemu dokter, aku senang.

Tapi, ada beberapa hal yang masih belum bisa aku atasi sampai sekarang.

Tatapan sinis, jijik, sekaligus kasihan dari orang-orang. Bisakah aku tidak menerima itu lagi?
Aku setiap hari seperti ini. Sedikit pucat dan nampak lemas. Tapi tak apa, yang penting aku lebih memiliki semangat hidup daripada hari kemarin.

Tatapan kasihan itu, I don't need it.

Tapi sejujurnya, aku masih sedih dan malu jika harus menggerakkan tubuh bersama-sama dengan orang lain. Seperti pelajaran olahraga ini. Aku malu saat aku tidak bisa praktek suatu gerakan karena aku tidak kuat melakukannya. Dan tatapan-tatapan orang lain membuatku risih. Pelajaran ini sangat menarik, sebelum aku mengetahui apa yang terjadi pada diriku.

Aku malu saat teman-teman bertanya, "Kamu kenapa nggak ikut praktek?", atau saat jadwal berenang dan semuanya hadir, saat yang lain bermain bersama teman, dan aku sendiri mencoba terapi bersama instruktur.

Aku merasa asing.
Aku, apakah aku cacat?

Rabu, 25 Juli 2018

Aku Bangga Menjadi Tuan Rumah Asian Games ke-XVIII!


            Setelah menjadi tuan rumah Asian Games ke-IV pada tahun 1962, Indonesia dipilih kembali menjadi tuan rumah Asian Games ke-XVIII. Ini adalah sebuah kehormatan yang besar bagi Bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, Asian Games kali ini, mempertemukan kurang lebih 15.000 atlet dari 45 negara, dan memperebutkan 462 medali dari 40 cabang olahraga. Jumlah yang sangat fantastis, kan?

            Asian Games 2018 akan dilaksanakan mulai tanggal 18 Agustus 2018 sampai dengan 2 September 2018 ini membawa slogan ENERGY OF ASIA yang berarti kekuatan dari seluruh negara di Asia. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Asian Games, acara ini akan dilaksanakan di dua tempat dalam satu negara yaitu Jakarta dan Palembang. Tentulah perhelatan olahraga terbesar kedua di dunia setelah Olimpiade ini harus kita kawal dengan baik. Kita harus mampu menjadi tuan rumah yang baik dan mendukung sepenuhnya terhadap acara ini. 

            Dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur yang pemerintah saat ini lakukan, tak bisa disangkal bahwa Asian Games adalah bukti bangkitnya Indonesia di kancah olahraga setelah meredup selama satu dekade terakhir. Dengan adanya LRT (Light Rail Transit), MRT (Mass Rapid Transit), renovasi Stadion Gelora Bung Karno dalam skala besar, dan seluruh fasilitas yang dibangun oleh pemerintah untuk mendukung Asian Games 2018 ini, saya berharap akan ada kemajuan yang signifikan terutama untuk masyarakat Indonesia.

            Membahas Asian Games, tidak lengkap rasanya jika tidak ikut membahas dua elemen penting di dalamnya, yaitu maskot dan logo. Untuk Asian Games kali ini, ada 3 maskot yang telah ditetapkan Indonesia. Mereka adalah Bhin-Bhin, Atung, dan Kaka. Ketiga maskot ini merepresentasikan kekayaan alam, budaya, dan keberagaman Indonesia. Bhin-Bhin adalah Burung Cendrawasih khas Indonesia bagian Timur yang merepresentasikan strategi, Atung adalah Rusa Bawean dari Pulau Bawean yang merepresentasikan kecepatan, dan Kaka yang tak lain dan tak bukan adalah Badak Bercula Satu khas Indonesia bagian Barat yang merepresentasikan kekuatan. Ketiga maskot ini jika disatukan akan menjadi gambaran dari Benua Asia yang memiliki strategi tepat, kecepatan, dan kekuatan yang besar. Selain itu, ketiga maskot ini juga merepresentasikan semangat Indonesia dalam Bhinneka Tunggal Ika.

            Sedangkan untuk logonya, kali ini mengadaptasi dari bentuk Gelora Bung Karno dilihat dari sudut pandang atas dengan delapan jalur menuju ke stadion serta logo OCA (Olympic Council of Asia). Desain ini dapat menggambarkan bagaimana semangat ENERGY OF ASIA yang menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan warna-warna yang berbeda merepresentasikan kekayaan alam, budaya, dan keberagaman Indonesia maupun Asia.

            Berkaca pada suksesnya Asian Games ke-IV dahulu, bukan tidak mungkin Indonesia mampu mempertahankan prestasi yang dicapai. Saat usia bangsa ini masih seumur biji jagung, Indonesia mampu meraih posisi runner up setelah Jepang sebagai juara dengan memperoleh 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Tentu ini membuktikan ke mata dunia bahwa kekuatan Bangsa Indonesia sangatlah besar, tidak kalah dengan negara lain, dan mampu bersaing dalam dunia olahraga. Tahun ini, target Indonesia adalah menduduki 10 besar. Dan ini semua bukan tidak mungkin untuk mampu diwujudkan dengan kerja keras para atlet yang bertanding dan dukungan penuh dari masyarakat.

            Untuk perhelatan olahraga akbar ini, pemerintah pun tidak tanggung-tanggung dalam mempersiapkannya. Anggaran dana senilai nyaris 10 triliun dikucurkan demi terciptanya kenyamanan, keamanan, dan kesuksesan Asian Games 2018. Dan anggaran ini diluar proyek pembangunan LRT dan MRT. Sebagai bagian dari persiapan menyambut Asian Games, pembangunan MRT Jakarta akan dipercepat. Palembang juga akan meningkatkan fasilitas seperti membangun monorel dengan panjang 25 kilometer, lalu skybridge dengan transit kereta ringan (LRT) terminal yang mengambil penumpang dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II ke Stadion Jakabaring. Saya sampai dibuat berdecak kagum dengan proses yang dilakukan pemerintah. Semoga saja fasilitas yang direnovasi maupun dibangun nantinya tetap dapat digunakan sebagaimana mestinya oleh masyarakat pasca Asian Games usai.

            Promosi pun gencar dilakukan untuk menarik minat masyarakat Indonesia maupun luar negeri pada Asian Games. Beberapa langkah promosi sudah dilakukan, salah satunya adalah Pemerintah Indonesia mendatangkan salah satu girlband Korea Selatan, SNSD sebagai bintang tamu dalam countdown satu tahun Asian Games 2018 pada 18 Agustus 2017 lalu. Bahkan, pemerintah juga mengirim bus promosi Asian Games ke Rusia, tempat perhelatan pertandingan sepakbola terbesar di dunia tahun ini, World Cup 2018.

            Dengan adanya beberapa cabang olahraga baru, Asian Games 2018 menjadi kesempatan pertama kali Asian Games memperlombakan baik cabang olahraga maupun nomor olahraga terbanyak yang akan di pertandingkan. Lho, cabang olahraga baru? Yap, cabang olahraga baru! Dari sini saja sudah terdengar seru sekali. Pasti akan sayang untuk dilewatkan. Dalam Asian Games kali ini, ada yang berbeda dari cabang olahraganya. Cabang olahraga ini akan ditandingkan perdana di Indonesia tahun ini. Pasti penasaran, kan? Cabang olahraga ini adalah Rollersport, Bridge, Basket 3x3, Jet Ski, Pencak Silat, Jiu Jitsu, Sambo, Kurash, Paralayang, dan Panjat Tebing. Belum mengetahui sebagian besar dari 10 cabang olahraga tersebut? Silakan menonton pada saat Asian Games, ya! J

            Awalnya, pergelaran olahraga ini akan diadakan di Hanoi, Vietnam. Namun akhirnya dibatalkan dengan adanya alasan krisis ekonomi dan finansial yang dialami negara tersebut. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games muncul dalam pertemuan OCA General Assembly, dimana delegasi Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dipimpin oleh Ketua Umum Rita Subowo dan Presiden Olimpiade Council of Asia (OCA) Sheik Fahad Al-Sabah di Incheon, September 2014. Dengan adanya kesempatan ini, saya sangat berharap Indonesia mampu memanfaatkannya sebaik mungkin. Tidak menutup kemungkinan, Asian Games akan menjadi pintu gerbang bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengeksplorasi kekayaan alam, budaya, dan keberagaman Indonesia. Tentu saja ini akan menjadi sebuah peluang besar untuk memajukan ekonomi rakyat Indonesia. Sekali lagi, UNTUK KEMAJUAN EKONOMI RAKYAT INDONESIA. Pada akhirnya, semua akan kembali ke rakyat. Semua hasil akan dinikmati oleh rakyat jika kita semua mampu memegang kendali ini. Asian Games bukan lagi hanya milik atlet, atau milik sponsor dan media, maupun milik pejabat semata. Asian Games adalah MILIK KITA BERSAMA.

            Sebelumnya, OCA menginginkan agar Asian Games ke-XVIII ini agar dilaksanakan pada tahun 2019, namun Indonesia mengajukan syarat agar dapat dilaksanakan pada tahun 2018 karena pada 2019 akan diadakan pemilihan umum presiden. Akhirnya syarat ini pun disetujui sehingga Indonesia resmi menjadi tuan rumah Asian Games ke-XVIII pada tahun 2018.

            Kita harus bangga. Kita harus mendukung sepenuhnya. Saya, kamu, mereka, kita semua masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Dukung Indonesia. Bahkan dengan aksi sekecil apapun. KITA BANGGA INDONESIA MENJADI TUAN RUMAH ASIAN GAMES KE-XVIII 2018!


#dukungbersama 

#asiangames2018