Rabu, 10 Oktober 2018

Aku, Tidak Normal?

Hari ini pelajaran olahraga. Semua nampak bersemangat. Aku pun juga bersemangat. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu pelajaran yang menyenangkan.

Tapi, aku punya masalah. Kelainan di tulang belakang membuatku tak leluasa menggerakkan tubuh. Aku mengetahuinya saat kelas XI. Sungguh menyedihkan awalnya. Yah, sampai sekarang masih terdengar menyedihkan sih.

Jadi, aku adalah penderita skoliosis. Memang tidak terlalu besar sih derajat kemiringannya. Tapi ini benar-benar membuatku tidak percaya diri. Tulang belikat yang tidak sama. Mata yang tidak sama. Tubuh yang kurus, karena nafsu makan sedikit. Sering sakit-sakitan. Haha, you can call me whatevs you want.

Awalnya dari sejak lama sekali aku menyadari tulang belikat yang tidak sama. Apalagi saat 'nyender', terasa sekali. Tapi aku bersikap biasa saja karena memang aku tidak tau. Mataku tidak sama, mungkin tidak terlalu kelihatan. Tapi.. Ini terasa sekali saat aku memakai kacamata atau foto di HP. Aku mulai merasa ada sesuatu yang salah. Tidak seharusnya seperti ini.

Sampai pada suatu hari, saat praktek shalat di MI..
Ternyata aku tidak bisa ruku' dengan posisi 90 derajat seperti teman-teman lain. Di punggungku ada punuknya. Aku bingung, aku kenapa? Dan itu ditekan-tekan sama guru. And it's totally hurts. Aku mencoba buat melupakan itu.

Kedua kalinya, praktek shalat di MTs..
Masih berlanjut. Masih tidak bisa ruku' dengan posisi seperti teman-teman yang punggungnya lurus semua. Punggungku masih ada punuknya. Dan ditekan-tekan lagi sama guruku, dan tentu saja rasanya lebih sakit. Aku menangis, sedikit. Aku malu. Kenapa aku begini?

Satu siang bolong saat kelas XI. Ibuku semakin menyadari ada yang salah dengan punggungku. Perbedaan tulang belikat yang cukup terlihat apalagi kalau salah pilih baju. Saat itu Ibu sudah menawarkan untuk pergi ke dokter. Tapi aku menolak dengan alasan "masih banyak yang harus dikerjakan, buang-buang waktu nunggu dokter yang gak jelas." karena yah, April baru operasi. Masa September sudah main ke rumah sakit lagi?

Setelah berminggu-minggu, akhirnya aku mau diperiksa ke dokter. Dengan catatan, meninggalkan semua tetek bengek sekolah dan ekskul yang mau punya hajat. Yah, gak apa-apa deh. Biar tau apa yang salah sama diriku.

Sehari.. Belum ketemu dokter.
Dua hari.. Bertemu dokter, ruang rontgen tutup.
Tiga hari.. Proses rontgen dan diagnosa.

You know what? Aku nangis sejadi-jadinya. Lihat tubuhku yang gak sempurna. Aku hancur. Aku malu. Aku bingung. Aku nggak tau harus cerita ke siapa. Aku di titik terendah setelah ditekan dimana-mana. Sekolah, rumah, teman, semuanya.

Bahkan dokter memberi surat rujukan untuk dibawa ke suatu RS di Malang yang aku tau, harganya gak murah sama sekali. Aku ngerasa gak berguna banget dan cuma nyusahin orang-orang di sekitarku. Aku merasa kayanya kalau kemarin-kemarin aku mati sepertinya akan lebih baik.

Orang tua mulai menekan, dan sampai bilang, "Kamu tuh sakit mulu, apa nggak kasihan sama bapakmu?"

Dari situ aku berpikir, aku nggak minta diciptakan buat sakit-sakitan kaya gini. Aku mulai jahat sama diri sendiri. Setiap hari aku 'dengan sengaja' nyiksa diri sendiri dengan kegiatan yang padat, tekanan-tekanan dari sekitar, pertemanan yang tidak baik, ngerusak pola makan dan tidur, dan bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri.

Saat itu aku merasa kalau aku mati, semuanya akan jadi lebih baik.

Tapi, sepertinya tidak.

Akibat pola hidup selama 1-2 bulan 'toxic' abis-abisan, untuk pertama kali maag kambuh dan parah.

Pada akhirnya, ya berobat lagi. Ngabisin duit orang tua lagi. I'm done.

Langsung saat itu, entah kenapa aku mulai berubah. Kalau sekarang aku masih nyusahin orang lain, setidaknya besok aku tidak akan seperti hari ini. Walaupun sampai saat ini masih saja menyusahkan orang lain di sekitar.. Tapi aku tetap berusaha.

Semua berimbas ke nilai akademis. Hancur sehancur-hancurnya. I'm totally broken. Merosot jauh dan (katanya) sampai jadi bahan desas-desus guru di ruangnya. Oh, I'm insane.

Perlahan, aku mulai mau untuk berubah. Berusaha meninggalkan semua 'depresi-depresi' itu bagaimanapun caranya. Me time, refleksi diri, do something crazy, dan lain sebagainya. Walaupun sampai sekarang masih tetap sakit-sakitan, setidaknya tak usah bertemu dokter, aku senang.

Tapi, ada beberapa hal yang masih belum bisa aku atasi sampai sekarang.

Tatapan sinis, jijik, sekaligus kasihan dari orang-orang. Bisakah aku tidak menerima itu lagi?
Aku setiap hari seperti ini. Sedikit pucat dan nampak lemas. Tapi tak apa, yang penting aku lebih memiliki semangat hidup daripada hari kemarin.

Tatapan kasihan itu, I don't need it.

Tapi sejujurnya, aku masih sedih dan malu jika harus menggerakkan tubuh bersama-sama dengan orang lain. Seperti pelajaran olahraga ini. Aku malu saat aku tidak bisa praktek suatu gerakan karena aku tidak kuat melakukannya. Dan tatapan-tatapan orang lain membuatku risih. Pelajaran ini sangat menarik, sebelum aku mengetahui apa yang terjadi pada diriku.

Aku malu saat teman-teman bertanya, "Kamu kenapa nggak ikut praktek?", atau saat jadwal berenang dan semuanya hadir, saat yang lain bermain bersama teman, dan aku sendiri mencoba terapi bersama instruktur.

Aku merasa asing.
Aku, apakah aku cacat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar