Sabtu, 31 Agustus 2019

New Chapter, スタート!

Sejak pengumuman SBMPTN tahun ini, maka perjalanan baruku dimulai.
Aku diterima di salah satu universitas negeri yang, uh, cukup terkenal. Di program studi yang 'pernah' kuinginkan dulu.
Banyak orang memberikan ucapan selamat. Mulai dari keluarga, teman, guru-guru, bahkan, hmm, orang yang kusuka.
Tapi, aku merasa seperti diburu sesuatu yang aku pun tak tahu apa itu. Anxiety disorder pun kembali muncul. Bahkan lebih parah dari saat operasi 3 tahun lalu. Selalu merasa tidak tenang dan tidak aman hampir setiap saat.
Baru aku sadar beberapa minggu setelahnya, aku tidak pernah merantau. Aku tidak pernah pergi jauh dalam jangka waktu yang lama dan berpisah dengan keluargaku.
Ah, membayangkannya saja cukup membuatku takut dan muak secara bersamaan.

"Apa aku bisa hidup sendiri? Di tempat yang jaaaaauh itu?"

Serius. Ketakutanku bukan hanya bagaimana perkuliahan akan berlangsung, namun juga bagaimana caranya agar aku mampu bertahan dalam hidup mode survival.

Setelah pengumuman, aku pergi ke kampus untuk daftar ulang dan melaksanakan tes ELPT untuk kebutuhan yudisium. Bruh, rasanya campur aduk. Seperti mimpi.
Di sana aku terus memikirkan hal ini: Apa benar aku diterima di sini? Apa benar aku akan tinggal di sini?
Saat itu, aku ke kampus bersama ibuku. Sebenarnya ingin sendiri, tapi ibu kasihan. Aku sebenarnya lebih kasihan kalau ibu ikut, karena ini pasti akan sangat melelahkan.

Benar saja, ini adalah hari yang panjang. Lelah, ngantuk, dan lemas menjadi satu. Kami pulang ke rumah dengan bis (yang tentu saja harus berlarian dan berdesakan untuk naiknya) dan sampai di rumah saat tengah malam. Jarak rumah ke kampusku sekitar 5 jam.
Di perjalanan, aku melihat ibuku yang lelah tertidur di bahuku, ingin menangis rasanya.
Benci sama diri sendiri, kenapa nyusahin amat jadi anak.

Beberapa minggu setelahnya, aku ikut PKKMB, ospek, atau apapun itu.
Jujur, nggak enak rasanya. Sebenarnya seru, tapi aku selalu ingat ibuku saat pulang malam.
Aku kangen.
Iya, aku yang nakal ini ternyata kangen sama ibuku.
Hampir setiap malam aku menangis. Entah apa alasannya. Tugas pun sebenarnya tidak terlalu banyak.
Aku saja yang mellow sendiri. Padahal semua baik-baik saja walaupun finansial belum stabil.
Ya, aku tidak punya banyak uang saat itu. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan ospek dan makan. Itu saja.

Me time? Refreshing? Tidak sempat terpikirkan.

Selama beberapa hari aku memendam semua masalahku sendiri. Hanya satu teman dekatku yang tahu bahwa keadaanku sedang buruk. Ibuku melarangku bercerita tentang masalah pribadi pada orang lain dan aku menyanggupinya.

Namun beberapa hari setelah itu, aku tidak kuat. Rasanya bangun tanpa semangat sangat menyiksa. Terlebih kegiatan PKKMB yang padat membuatku semakin muak. Aku lelah dan mencapai batas akhir. Kuberanikan diri untuk menelepon ibuku. Tapi, saat tersambung, aku tidak bisa berbicara, kelu rasanya. Aku sangat rindu bahkan dengan suara ibuku sendiri. Aku hanya diam sambil menangis di telepon. Ibuku jadi khawatir dengan keadaanku. Maaf, ya, Bu.

Selama mungkin 2 minggu aku seperti itu. Tidak bersemangat, lelah, kesal, bercampur menjadi satu. Namun lama kelamaan semuanya membaik. Aku mulai bisa berbaur dengan orang lain. Aku mulai merasa damai di kamarku. Mulai berkenalan dengan orang baru dan menyerap ilmu baru. Walaupun kadang masih menangis tanpa alasan, setidaknya aku merasa aku mulai membaik dan aku mampu menjalaninya seperti orang-orang lain.

Entah sampai kapan perasaan ini akan berlangsung, tapi semoga saja mampu menjalaninya.

Ini adalah fotoku dan teman-teman baruku, Studi Kejepangan Universitas Airlangga 2019.
Maaf, aku maba norak, hehehe..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar