Selasa, 14 Januari 2020

Bapak


26 Desember 2019

            Pagi ini, aku dibangunkan tidak dengan alarm seperti biasanya. Aku dibangunkan oleh beberapa panggilan telepon yang tidak kujawab. Telepon dari Ibu. Dalam sambungan telepon, aku bisa mendengar suara ibuku, namun tidak dengan bapakku. Seketika aku mencoba berdoa, apa saja yang bisa aku ucapkan. Padahal, baru enam jam yang lalu aku sampai di rumah setelah mengantar bapak, yang sedang berjuang melawan sakit. Hatiku mencelos, kakiku gemetar. Aku segera membangunkan kakakku, yang masih tidur karena kelelahan. Telepon dari Ibu sengaja tidak kuputus sambungannya, agar aku tahu apa yang terjadi. Terdengar ibuku menjerit, menangis. Aku semakin kalut dalam panik. Setelah itu baru aku tahu, Bapak yang sedang berjuang, akhirnya mencapai garis finish.

            Sebenarnya, sudah lama aku membuat draft blog untuk menceritakan kenanganku dengan Bapak, tapi selalu tertunda oleh tugas, agenda, dan sebagainya. Kondisi fisik yang tidak bisa 100% fit juga sangat menghalangi kemampuanku untuk terus-menerus menatap layar monitor. Entah mengapa, aku seperti dibisiki sesuatu, “kamu tidak akan bisa membuat kenangan dengannya lagi, tulis atau kamu akan menyesal”.

            Sejujurnya, aku tidak menyangka kalau di penghujung tahun ini, aku akan mengalami guncangan sangat keras dalam hidupku. Aku benci ini. Tapi semua tidak bisa diulang kembali. Tidak usah sok bijak dengan menasihatiku, itu tidak penting dan tidak berpengaruh besar dalam hidupku. Aku benci kenyataan yang menamparku keras-keras tapi mereka menyuruhku untuk segera lepas-lepas. Memangnya mudah? Sama sekali tidak.

            Tulisan ini aku dedikasikan untuk Bapak.


            Halo, Bapak? Apa kabar? Sudah agak lama kita tidak mengobrol. Terakhir kali aku pulang dari kampus saat minggu tenang sebelum Ujian Akhir Semester. Bapak masih sehat, menjemputku di stasiun, berkunjung ke rumah saudara, makan denganku di luar. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang salah, meskipun sejak Desember 2018 Bapak sudah stop bekerja seperti biasanya karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan.

            Aku kangen Bapak yang sering melucu dengan spontan, yang tidak mau disebut ‘Ayah’ karena terdengar seperti panggilan orang kaya, yang kadang menanyaiku apa arti dari sebuah ayat Al-Qur’an, yang selalu menanyaiku “nggak pake nasi?” saat aku makan mie instan, dan masih banyak lagi.

            Rasanya 18 tahun kurang panjang untuk dilalui.


            Rasanya 18 tahun sangat singkat.

            Bapak adalah salah satu pekerja keras yang pernah aku temui dalam hidupku. Ia bisa pergi menemui klien, pembeli, atau apapun kau menyebutnya pada pukul 5 pagi. Bahkan saat aku yang masih kecil belum bangun dari tidur. Dalam hidupku, mungkin aku tidak terlalu sering bertemu dengannya. Hanya saat waktu luang saat aku tidak sekolah atau saat malam hari berkumpul bersama sekeluarga.


            Ia adalah pekerja keras yang cara berpikirnya tidak bisa aku tebak.

            Saat kecil, aku bersama keluarga hampir setiap hari pergi ke luar, seperti menemani Bapak pergi ke samsat, mengambil mobil, ataupun pergi untuk menentukan deal dengan pembeli. Walaupun nantinya aku dan kakakku hanya dapat permen Mentos yang dibeli di swalayan Kharisma di Trenggalek tapi aku sangat senang.



            Setiap berangkat sekolah dan sedang hujan, aku hampir selalu diantar oleh bapakku memakai mobil. Berlanjut sampai SMA. Rasanya senang, walaupun Bapakku tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sekolahku dari MI sampai SMA. Bapak hanya akan menunggu di luar pagar sekolah.

            Bapak memang bukan orang berpendidikan tinggi. Pendidikannya hanya tamat SD. Tapi, dari tetangga sering kudengar bahwa Bapak adalah murid yang pintar saat dulu di sekolah. Tak berpendidikan bukan berarti bodoh. Bapakku sangat cerdas, ia sangat keren di mataku. Dari dulu sampai sekarang.



            Memang Bapak adalah orang yang termasuk sukses di tempatku. Namun bukan berarti kesuksesan itu ia raih dengan mudah. Bapak pernah bekerja sebagai tukang kredit panci, memelihara ratusan ekor bebek, supir, berdagang motor, dan sebagainya. Bapakku tidak pernah malu dengan usahanya. Walaupun ia sangat mentereng, ia tetap berteman dengan seluruh kalangan dari tukang becak sampai pejabat pemerintah. Itu juga tidak menumbuhkan kesombongan sama sekali dalam dirinya.



            Bapak, dari sebagian ceritamu, yang aku pahami adalah aku sangat bangga memiliki Bapak sepertimu. Aku sangat bersyukur dilahirkan dalam keluarga ini. Pak, sekarang Bapak sudah sembuh dan tidak merasakan sakit seperti kemarin. Aku harap, kami anak-anakmu semua bisa meneruskan perjuangan Bapak dan menjaga Ibu sampai akhir nanti.

            Tunggu aku ya, Pak. Nanti kita bertemu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar