26 Desember 2019
Pagi
ini, aku dibangunkan tidak dengan alarm seperti biasanya. Aku dibangunkan oleh
beberapa panggilan telepon yang tidak kujawab. Telepon dari Ibu. Dalam
sambungan telepon, aku bisa mendengar suara ibuku, namun tidak dengan bapakku. Seketika
aku mencoba berdoa, apa saja yang bisa aku ucapkan. Padahal, baru enam jam yang
lalu aku sampai di rumah setelah mengantar bapak, yang sedang berjuang melawan
sakit. Hatiku mencelos, kakiku gemetar. Aku segera membangunkan kakakku, yang
masih tidur karena kelelahan. Telepon dari Ibu sengaja tidak kuputus
sambungannya, agar aku tahu apa yang terjadi. Terdengar ibuku menjerit,
menangis. Aku semakin kalut dalam panik. Setelah itu baru aku tahu, Bapak yang
sedang berjuang, akhirnya mencapai garis finish.
Sebenarnya,
sudah lama aku membuat draft blog untuk menceritakan kenanganku dengan Bapak,
tapi selalu tertunda oleh tugas, agenda, dan sebagainya. Kondisi fisik yang
tidak bisa 100% fit juga sangat menghalangi kemampuanku untuk terus-menerus
menatap layar monitor. Entah mengapa, aku seperti dibisiki sesuatu, “kamu tidak akan bisa membuat kenangan dengannya
lagi, tulis atau kamu akan menyesal”.
Sejujurnya,
aku tidak menyangka kalau di penghujung tahun ini, aku akan mengalami guncangan
sangat keras dalam hidupku. Aku benci ini. Tapi semua tidak bisa diulang
kembali. Tidak usah sok bijak dengan menasihatiku, itu tidak penting dan tidak
berpengaruh besar dalam hidupku. Aku benci kenyataan yang menamparku
keras-keras tapi mereka menyuruhku untuk segera lepas-lepas. Memangnya mudah?
Sama sekali tidak.
Tulisan
ini aku dedikasikan untuk Bapak.
Halo,
Bapak? Apa kabar? Sudah agak lama kita tidak mengobrol. Terakhir kali aku
pulang dari kampus saat minggu tenang sebelum Ujian Akhir Semester. Bapak masih
sehat, menjemputku di stasiun, berkunjung ke rumah saudara, makan denganku di
luar. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang salah, meskipun sejak Desember 2018
Bapak sudah stop bekerja seperti biasanya karena kondisi kesehatan yang kurang
memungkinkan.
Aku
kangen Bapak yang sering melucu dengan spontan, yang tidak mau disebut ‘Ayah’
karena terdengar seperti panggilan orang kaya, yang kadang menanyaiku apa arti
dari sebuah ayat Al-Qur’an, yang selalu menanyaiku “nggak pake nasi?” saat aku
makan mie instan, dan masih banyak lagi.
Rasanya
18 tahun kurang panjang untuk dilalui.
Rasanya
18 tahun sangat singkat.
Bapak
adalah salah satu pekerja keras yang pernah aku temui dalam hidupku. Ia bisa
pergi menemui klien, pembeli, atau apapun kau menyebutnya pada pukul 5 pagi. Bahkan
saat aku yang masih kecil belum bangun dari tidur. Dalam hidupku, mungkin aku
tidak terlalu sering bertemu dengannya. Hanya saat waktu luang saat aku tidak
sekolah atau saat malam hari berkumpul bersama sekeluarga.
Ia adalah
pekerja keras yang cara berpikirnya tidak bisa aku tebak.
Saat
kecil, aku bersama keluarga hampir setiap hari pergi ke luar, seperti menemani
Bapak pergi ke samsat, mengambil mobil, ataupun pergi untuk menentukan deal dengan pembeli. Walaupun nantinya
aku dan kakakku hanya dapat permen Mentos yang dibeli di swalayan Kharisma di
Trenggalek tapi aku sangat senang.
Setiap
berangkat sekolah dan sedang hujan, aku hampir selalu diantar oleh bapakku
memakai mobil. Berlanjut sampai SMA. Rasanya senang, walaupun Bapakku tidak
pernah sekalipun menginjakkan kaki di sekolahku dari MI sampai SMA. Bapak hanya
akan menunggu di luar pagar sekolah.
Bapak
memang bukan orang berpendidikan tinggi. Pendidikannya hanya tamat SD. Tapi,
dari tetangga sering kudengar bahwa Bapak adalah murid yang pintar saat dulu di
sekolah. Tak berpendidikan bukan berarti bodoh. Bapakku sangat cerdas, ia
sangat keren di mataku. Dari dulu sampai sekarang.
Memang
Bapak adalah orang yang termasuk sukses di tempatku. Namun bukan berarti
kesuksesan itu ia raih dengan mudah. Bapak pernah bekerja sebagai tukang kredit
panci, memelihara ratusan ekor bebek, supir, berdagang motor, dan sebagainya. Bapakku
tidak pernah malu dengan usahanya. Walaupun ia sangat mentereng, ia tetap berteman dengan seluruh kalangan dari tukang
becak sampai pejabat pemerintah. Itu juga tidak menumbuhkan kesombongan sama
sekali dalam dirinya.
Bapak,
dari sebagian ceritamu, yang aku pahami adalah aku sangat bangga memiliki Bapak
sepertimu. Aku sangat bersyukur dilahirkan dalam keluarga ini. Pak, sekarang
Bapak sudah sembuh dan tidak merasakan sakit seperti kemarin. Aku harap, kami
anak-anakmu semua bisa meneruskan perjuangan Bapak dan menjaga Ibu sampai akhir
nanti.
Tunggu
aku ya, Pak. Nanti kita bertemu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar