Rabu, 04 Agustus 2021

Dua Tahun

 Hai. Ini adalah tahun keduaku berkuliah secara online karena pandemi.

Bosan? Tentu. Muak? Sudah pasti. Apakah ada pilihan selain ini? Tidak ada.

Hanya ada pengharapan yang semakin lama semakin pudar. Sudah lelah berharap, katanya.

Rasanya mau berharap dan memohon ke siapa lagi sudah tidak tahu.

Uang jajan tidak ada, kesempatan bertemu teman juga tidak ada.

Untungnya masih ada Discord sebagai media untuk bertemu teman-teman walau hanya dalam format suara.

Kadang lelah, sih, dipaksa dan dituntut untuk tetap waras dan selamat saat pandemi sedang jahat-jahatnya.

Sampai rasanya mau mengeluh pun jadi malas.

Siapa yang akan datang menolong? Rumah sakit saja penuh hingga ke pelataran.

Ketika tidak sengaja melihat Instagram stories kawan yang tengah berada di luar negeri, rasanya iri sekali.

Walaupun masih dengan prokes yang lengkap, mereka masih tetap bebas bepergian ke mana saja.

Salah apa aku sampai terjebak di sini, di Indonesia?

Setiap hari mendengar suara ambulans lalu lalang, rasanya pening dan pusing.

Ingin mati saja, tetapi tidak semudah itu ferguso.

Setiap hari aku memandangi jalan raya di depan rumah, dan diam-diam bergumam,

"Kapan hidup ini kembali seperti dulu?"

Walaupun rasanya tidak mungkin, tapi tetap saja pengharapan dan angan-angan itu ada.

By the way, aku sudah vaksin lengkap. Dua kali.

Dua kali disuntik bagi orang yang saat diambil darahnya untuk diperiksa sudah menangis dan menjerit, sih, menurutku sangat bagus.

Aku ingin berkuliah normal lagi, aku ingin pendapatan ibuku normal lagi.

Semoga kita diberi waktu yang cukup untuk bisa segera terlepas dari jeratan pandemi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar