Hadeh, daripada merutuki nasib yang tidak jelas kemana arahnya ini. Apalagi dapat jurusan Plan Z dari rnecana awal. Lebih baik berpikir gimana caranya agar survive dan mampu bertahan (serta keluar) dari neraka trial versi beta ini.
Penderitaan sudah dimulai sejak awal masa pengenalan kampus. Tugas banyak, belum punya teman, tidak punya uang buat jajan, kamar kos yang sempit dan jelek banget karena nggak ada ventilasinya serta mahal, dan tentu saja udara Surabaya yang sangat puanas e pol-polan rwek! Apakah penderitaan berlangsung sampai situ saja? Tentu tidak dong, Ferguso. Penderitaan terus berlangsung, bahkan sampai sekarang. Hadeh.
Rencana sweet escape from my home berlangsung dengan sangat tidak lancar karena Covid-19, jancok. Rasanya dipaksa melihat monitor setiap hari berjam-jam rasanya sangat tidak berbudaya, tidak sesuai dengan fakultas yang kutumpangi, Fakultas Ilmu Budaya. Kami pun tumbuh menjadi nolep dan alien di dalam kandang bernama kamar, hahaha.
Pelan, tapi pasti, hahay. Aku pun menjajaki semester tiap semester. Hingga akhirnya sampai di semester tiga. Beberapa mata kuliah pengantar untuk 'penjurusan' pun mulai dijejalkan. Mencoba dari linguistik, hingga Sastra dan Budaya. Aku pun bertanya-tanya, kok nggak ada spesialisasi idol? Hadeh. Apalagi saat itu aku secara tiba-tiba ditunjuk oleh ketua angkatan untuk menjadi korma (Koordinator Mata Kuliah) Pengantar Linguistik Jepang, hadeh. Aku yang tidak memiliki kekuasaan oligarki kuasa pun akhirnya mengiyakan saja.
Semester tiga berjalan kurang baik, karena masih banyak yang tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Rasanya kuliah menjadi berkali-kali lipat lebih menyusahkan dibandingkan saat offline dulu. Eh, dari tadi ngeluh mulu. Emang kelebihanku kayaknya lebih ke mengeluh daripada berusaha.
Semester empat? Sepertinya sama saja. Tapi lumayan lebih santai karena sudah memasuki spesialisasi penjurusan kuchiyose no jutsu. Dan nilai lumayan naik. God still bless me after all the shit.
Sekarang liburan buat otw ke semester lima, dan aku nggak tahu harus ngapain. Aku merasa kosong. Harus gimana, ya? Aku merasa nggak cukup siap untuk menjalani hari-hari di ambang kelulusan, menjadi pengangguran, sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan suatu saat nanti. Aku mulai mempertanyakan apa esensi dari kuliah dan apakah aku memang benar-benar layak untuk berjalan di jalur ini.
Jadi, spesialisasi jurusanku adalah Sastra dan Budaya Jepang. Kerjaannya ngapain? Ya melihat dan meneliti produk sastra dan budaya Jepang termasuk Japan Anime Video. Setidaknya ada sedikit bahasan mengenai idol dan tetek bengeknya. Chokawaii UwU
Kalau dibilang susah ya susah, dibilang mudah ya mudah. Kenapa begitu? Karena cakupan kajiannya luas dan mungkin tidak bisa kita pahami secara komprehensif di waktu yang sangat singkat. Bayangkan, kamu harus mengingat produk sastra yang ada di Jepang dari zaman kuno, Heian, Nara, Meiji, dan seterusnya dalam waktu satu semester. Sangat membagongkan, bukan?
Tapi, di sini aku merasa dapat mengeksplor apa yang aku minati dan inginkan, sehingga tidak masalah kalau aku tidak menguasai beberapa hal yang memang sulit. Lah wong dosenku saja belajar sastra budaya sampai S3, itu berarti S1 saja belum cukup untuk melihat kajiannya secara menyeluruh, hehe. Pembelaan diri atas kegoblokan.
Walaupun nilaiku biasa saja, tidak masuk mawapres Mahasiswa Depresi, tidak masuk artikel kampus, tidak viral di media sosial, dan tidak terlalu dibanggakan oleh orang tua, tetapi aku merasa bahwa ini adalah apa yang aku inginkan, yah, meskipun kadang pas kelas ngantuk juga. Di awal mungkin aku merasa menyesal masuk ke sini. Namun, di saat-saat seperti ini aku bersyukur karena aku nggak bisa bayangin kalau aku ada di fakultas lain yang pastinya lebih membagong daripada FIB.
Pada akhirnya, mau sesulit dan se-njlimet apapun hidupku tentu saja ada sesuatu yang tidak pernah aku duga yang datang menghampiriku. Membuat rasa penasaran dan ingin tahu muncul kembali. Dan itu sudah cukup untuk hidupku yang membosankan dan nggak jelas ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar