Senin, 06 April 2020

Hidup Untuk Apa?

Memasuki hari karantina #DiRumahAja sampe bosen hari ke-19, kali ini aku (mungkin) menemukan sesuatu yang hmm... kamu tahu? suara kokoro yang terpecah belah.

Tidak. Bukan itu.

Saat ini, mungkin aku telah sedikit mengerti dan paham bagaimana caranya hidup seperti orang dewasa. Kembali ke rutinitas yang sama berkali-kali tanpa ada sesuatu yang menarik. Yah, mungkin ada. Namun tidak sesering saat kita masih dalam masa pertumbuhan.

Kalian mungkin menganggap ini hanyalah tulisan yang sangat tidak penting dan tidak berpengaruh bagi kehidupan kalian karena, ya, MEMANG SEPERTI ITU KENYATAANNYA.

Hehe, selamat kalian telah membuang waktu beberapa menit untuk loading ke arah website, lalu kemudian membaca rangkaian huruf dari judul, satu persatu sampai di titik ini. Yah, sedikit melelahkan memang.

Berita yang mengejutkan di sini adalah; anehnya, aku mulai nyaman dan senang melakukan pekerjaan rumah. Bukan, bukan tugas Filsafat dari Pak Moses yang membuatku pusing itu (Tapi, ya, sudahlah). Tapi, pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel lantai, mengelap perabotan, sampai memasak, membuang sampah, dan sebagainya.

Yah, walaupun wawasan dan skill memasakku mungkin masih di bawah rata-rata.

Cukup mengagetkan buatku sendiri, karena dari dulu aku mungkin bisa dikatakan sedikit kesal dengan pekerjaan-pekerjaan seperti ini. Tapi, sekarang aku malah menikmatinya. Kesal juga awalnya, "Kok, aku jadi suka seperti ini?" seperti lirik lagu idol nasional. Aku baru menyadari kalau melihat rumah kita terlihat bersih, hati juga terasa nyaman dan senang melakukan aktivitas, seperti rebahan contohnya. Ini serius, saat rumah atau lingkungan bersih, mungkin aku yang awalnya malas, seperti malas mengerjakan course tambahan dari dosen, malas keluar kamar, malas makan, malas mandi, dan sebagainya (Ya, aku memang pemalas). Awalnya mungkin aku akan memaksa diriku untuk mengerjakan, tapi yang selanjutnya aku rasakan adalah rasa nyaman, kecuali saat ujian.

Tapi, tentu saja aku tidak akan mendaftar untuk layanan Go-Clean.

Aku juga sudah mulai tidak merasa jijik atau apapun dengan sampah-sampah ini (terutama di dapur) karena, ya, TENTU SAJA ITU SAMPAH DI RUMAH SENDIRI. Kecuali tiba-tiba ada muntahan koala di dapur, kemungkinan besar aku akan merasa jijik.

Aku tidak tahu perasaan macam apa yang menghinggapi tubuhku saat ini. Tapi, dengan adanya karantina mandiri karena Coronavirus ini, aku perlahan (sedikit banget, sih, mungkin) menjadi orang yang menghargai dan merawat apa yang aku miliki. Aku fokus dengan kegiatan spiritualitas (ibadah) dan bercengkerama dengan keluarga. Walaupun sebenarnya masih mikirin tugasnya Pak Moses.

Aku merasa, walaupun sebenarnya khawatir juga dengan keadaan ekonomi rakyat yang semakin menurun ini, setidaknya, aku sudah jarang mengkhawatirkan diri dan perasaanku sendiri seperti overthinking dan sebagainya.

Keadaan ini mungkin akan berbeda jika aku berada di kost. Mungkin aku akan makan makanan yang sama dan tidak sehat setiap hari, mungkin aku akan lebih malas lagi untuk keluar kamar dan mencari sinar matahari, mungkin spiritualitasku akan mulai goyah sedikit demi sedikit, mungkin aku hanya akan tidur seharian. Yah, walaupun sebenarnya aku rindu sekali dengan 'tidur seharian' ini.

Karantina ini sedikit banyak mengubah diri dan pandanganku terhadap hal lain.

Jadi, kapan Covid-19 Apocalypse ini akan berakhir? Aku rindu kamar kost!

Sabtu, 28 Maret 2020

Covid-19 Apocalypse

Jadi ini adalah hari ke-18278 sejak Coronavirus mulai menyebar di Indonesia. Aku sampai lupa sekarang hari apa. Panik? Tentu saja. Bosan? Jangan ditanya lagi.

Sebenarnya aku tidak mengira akan jadi seperti ini. Kupikir akan cepat membaik. Ternyata mungkin bisa saja sedikit lama. Huh.

Kali ini kampus ditutup, mahasiswa belajar dari rumah masing-masing. Sangat membosankan. Semua tugas dan ujian dikerjakan secara daring.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan pertimbangan yang berat. Tapi tak apalah, hitung-hitung aku menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan menghemat pengeluaranku selama kuliah.

Di perjalanan pulang, aku sangat khawatir sebenarnya. Tapi aku berusaha untuk berpikir positif. Untunglah aku sampai di rumah dengan selamat. Banyak temanku yang memutuskan untuk pulang kampung. Namun, ada juga yang tetap tinggal di kost. Semoga doaku yang terbaik untuk semuanya.

Aku sangat bosan di sini. Bisa aku katakan sangat bosan sampai aku membuka blog yang tidak pernah kusentuh ini. Haha. Maaf, ya. Karena kesibukan di perkuliahan, aku hampir tidak pernah menengok blog ini. Saat ada waktu luang, selalu kupakai untuk beristirahat atau sekedar self-healing. Ya, keadaan saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Sudah hampir setahun aku berkuliah. Ada banyak hal yang telah aku alami. Mulai dari hidup sendirian yang sebenarnya tidak benar-benar sendiri karena banyak teman yang ada di sini, sampai belajar untuk menata hidup yang lebih baik di masa depan. Aku tidak ingin terpaku di fase ini. Aku ingin merasakan apa yang dinamakan orang-orang dengan 'hidup yang lebih baik'.

Apa, ya? Aku tidak ingin lagi merasakan kesulitan-kesulitan dan hambatan yang aku alami sekarang di masa depan. Sebenarnya hanya itu, sih, motivasiku. Aku ingin hidup dan kehidupan yang lebih baik, lebih stabil, lebih mudah, apapun kamu ingin menyebutnya.

Aku merasa, kesulitan-kesulitan yang aku hadapi sekarang sangat membuatku sedih berulang kali. Dan ini sangat mengganggu. Bahkan sampai saat akan tidur, aku masih merasa berat dan tidak mampu menjalani ini. Terdengar berlebihan, ya? Tapi, memang inilah yang kurasakan semenjak awal masuk perkuliahan. Entah mengapa, meskipun aku tinggal di Surabaya mungkin bisa dikatakan sudah sedikit lama. Tapi, aku belum benar-benar menikmatinya.

Tapi, aku memiliki sedikit keyakinan bahwa ini adalah jalan yang benar yang memang seharusnya kulalui. Walaupun kadang ingin menyerah, dan sebagainya.

Dengan adanya apocalypse ini, tanpa sadar aku merindukan kost dan kampus. Hahaha, ini adalah pertama kali aku merindukan Surabaya! Aku senang bisa merasakan perasaan ini lagi. Semoga ini tetap berlanjut sampai nanti.

Sejujurnya aku sangat benci dengan kuliah daring ini, hahaha. Maaf, ya. Tapi aku rindu melihat keramaian di jalan raya. Tapi aku tidak rindu sama kamu.

Aku rindu berkumpul dengan teman-teman di kampus maupun di luar kampus. Karena, ya, kita makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Di kost aku sering merasa kesepian karena sendirian dan rindu dengan keluarga. Tapi, saat di rumah seperti ini, aku sangat merindukan kalian. Kenapa bisa begitu, ya? Ini wajar, kan?

Aku harap badai kesedihan ini segera berlalu dan kita semua bisa berkumpul dan cangkruk lagi tanpa rasa khawatir. Mari berusaha dan doakan yang terbaik.

Besok lusa kuliah daring yang pertama akan dimulai! Bagaimana, ya? Semoga tidak banyak tugas, deh.

Selasa, 14 Januari 2020

Bapak


26 Desember 2019

            Pagi ini, aku dibangunkan tidak dengan alarm seperti biasanya. Aku dibangunkan oleh beberapa panggilan telepon yang tidak kujawab. Telepon dari Ibu. Dalam sambungan telepon, aku bisa mendengar suara ibuku, namun tidak dengan bapakku. Seketika aku mencoba berdoa, apa saja yang bisa aku ucapkan. Padahal, baru enam jam yang lalu aku sampai di rumah setelah mengantar bapak, yang sedang berjuang melawan sakit. Hatiku mencelos, kakiku gemetar. Aku segera membangunkan kakakku, yang masih tidur karena kelelahan. Telepon dari Ibu sengaja tidak kuputus sambungannya, agar aku tahu apa yang terjadi. Terdengar ibuku menjerit, menangis. Aku semakin kalut dalam panik. Setelah itu baru aku tahu, Bapak yang sedang berjuang, akhirnya mencapai garis finish.

            Sebenarnya, sudah lama aku membuat draft blog untuk menceritakan kenanganku dengan Bapak, tapi selalu tertunda oleh tugas, agenda, dan sebagainya. Kondisi fisik yang tidak bisa 100% fit juga sangat menghalangi kemampuanku untuk terus-menerus menatap layar monitor. Entah mengapa, aku seperti dibisiki sesuatu, “kamu tidak akan bisa membuat kenangan dengannya lagi, tulis atau kamu akan menyesal”.

            Sejujurnya, aku tidak menyangka kalau di penghujung tahun ini, aku akan mengalami guncangan sangat keras dalam hidupku. Aku benci ini. Tapi semua tidak bisa diulang kembali. Tidak usah sok bijak dengan menasihatiku, itu tidak penting dan tidak berpengaruh besar dalam hidupku. Aku benci kenyataan yang menamparku keras-keras tapi mereka menyuruhku untuk segera lepas-lepas. Memangnya mudah? Sama sekali tidak.

            Tulisan ini aku dedikasikan untuk Bapak.


            Halo, Bapak? Apa kabar? Sudah agak lama kita tidak mengobrol. Terakhir kali aku pulang dari kampus saat minggu tenang sebelum Ujian Akhir Semester. Bapak masih sehat, menjemputku di stasiun, berkunjung ke rumah saudara, makan denganku di luar. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang salah, meskipun sejak Desember 2018 Bapak sudah stop bekerja seperti biasanya karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan.

            Aku kangen Bapak yang sering melucu dengan spontan, yang tidak mau disebut ‘Ayah’ karena terdengar seperti panggilan orang kaya, yang kadang menanyaiku apa arti dari sebuah ayat Al-Qur’an, yang selalu menanyaiku “nggak pake nasi?” saat aku makan mie instan, dan masih banyak lagi.

            Rasanya 18 tahun kurang panjang untuk dilalui.


            Rasanya 18 tahun sangat singkat.

            Bapak adalah salah satu pekerja keras yang pernah aku temui dalam hidupku. Ia bisa pergi menemui klien, pembeli, atau apapun kau menyebutnya pada pukul 5 pagi. Bahkan saat aku yang masih kecil belum bangun dari tidur. Dalam hidupku, mungkin aku tidak terlalu sering bertemu dengannya. Hanya saat waktu luang saat aku tidak sekolah atau saat malam hari berkumpul bersama sekeluarga.


            Ia adalah pekerja keras yang cara berpikirnya tidak bisa aku tebak.

            Saat kecil, aku bersama keluarga hampir setiap hari pergi ke luar, seperti menemani Bapak pergi ke samsat, mengambil mobil, ataupun pergi untuk menentukan deal dengan pembeli. Walaupun nantinya aku dan kakakku hanya dapat permen Mentos yang dibeli di swalayan Kharisma di Trenggalek tapi aku sangat senang.



            Setiap berangkat sekolah dan sedang hujan, aku hampir selalu diantar oleh bapakku memakai mobil. Berlanjut sampai SMA. Rasanya senang, walaupun Bapakku tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sekolahku dari MI sampai SMA. Bapak hanya akan menunggu di luar pagar sekolah.

            Bapak memang bukan orang berpendidikan tinggi. Pendidikannya hanya tamat SD. Tapi, dari tetangga sering kudengar bahwa Bapak adalah murid yang pintar saat dulu di sekolah. Tak berpendidikan bukan berarti bodoh. Bapakku sangat cerdas, ia sangat keren di mataku. Dari dulu sampai sekarang.



            Memang Bapak adalah orang yang termasuk sukses di tempatku. Namun bukan berarti kesuksesan itu ia raih dengan mudah. Bapak pernah bekerja sebagai tukang kredit panci, memelihara ratusan ekor bebek, supir, berdagang motor, dan sebagainya. Bapakku tidak pernah malu dengan usahanya. Walaupun ia sangat mentereng, ia tetap berteman dengan seluruh kalangan dari tukang becak sampai pejabat pemerintah. Itu juga tidak menumbuhkan kesombongan sama sekali dalam dirinya.



            Bapak, dari sebagian ceritamu, yang aku pahami adalah aku sangat bangga memiliki Bapak sepertimu. Aku sangat bersyukur dilahirkan dalam keluarga ini. Pak, sekarang Bapak sudah sembuh dan tidak merasakan sakit seperti kemarin. Aku harap, kami anak-anakmu semua bisa meneruskan perjuangan Bapak dan menjaga Ibu sampai akhir nanti.

            Tunggu aku ya, Pak. Nanti kita bertemu lagi.

Sabtu, 31 Agustus 2019

New Chapter, スタート!

Sejak pengumuman SBMPTN tahun ini, maka perjalanan baruku dimulai.
Aku diterima di salah satu universitas negeri yang, uh, cukup terkenal. Di program studi yang 'pernah' kuinginkan dulu.
Banyak orang memberikan ucapan selamat. Mulai dari keluarga, teman, guru-guru, bahkan, hmm, orang yang kusuka.
Tapi, aku merasa seperti diburu sesuatu yang aku pun tak tahu apa itu. Anxiety disorder pun kembali muncul. Bahkan lebih parah dari saat operasi 3 tahun lalu. Selalu merasa tidak tenang dan tidak aman hampir setiap saat.
Baru aku sadar beberapa minggu setelahnya, aku tidak pernah merantau. Aku tidak pernah pergi jauh dalam jangka waktu yang lama dan berpisah dengan keluargaku.
Ah, membayangkannya saja cukup membuatku takut dan muak secara bersamaan.

"Apa aku bisa hidup sendiri? Di tempat yang jaaaaauh itu?"

Serius. Ketakutanku bukan hanya bagaimana perkuliahan akan berlangsung, namun juga bagaimana caranya agar aku mampu bertahan dalam hidup mode survival.

Setelah pengumuman, aku pergi ke kampus untuk daftar ulang dan melaksanakan tes ELPT untuk kebutuhan yudisium. Bruh, rasanya campur aduk. Seperti mimpi.
Di sana aku terus memikirkan hal ini: Apa benar aku diterima di sini? Apa benar aku akan tinggal di sini?
Saat itu, aku ke kampus bersama ibuku. Sebenarnya ingin sendiri, tapi ibu kasihan. Aku sebenarnya lebih kasihan kalau ibu ikut, karena ini pasti akan sangat melelahkan.

Benar saja, ini adalah hari yang panjang. Lelah, ngantuk, dan lemas menjadi satu. Kami pulang ke rumah dengan bis (yang tentu saja harus berlarian dan berdesakan untuk naiknya) dan sampai di rumah saat tengah malam. Jarak rumah ke kampusku sekitar 5 jam.
Di perjalanan, aku melihat ibuku yang lelah tertidur di bahuku, ingin menangis rasanya.
Benci sama diri sendiri, kenapa nyusahin amat jadi anak.

Beberapa minggu setelahnya, aku ikut PKKMB, ospek, atau apapun itu.
Jujur, nggak enak rasanya. Sebenarnya seru, tapi aku selalu ingat ibuku saat pulang malam.
Aku kangen.
Iya, aku yang nakal ini ternyata kangen sama ibuku.
Hampir setiap malam aku menangis. Entah apa alasannya. Tugas pun sebenarnya tidak terlalu banyak.
Aku saja yang mellow sendiri. Padahal semua baik-baik saja walaupun finansial belum stabil.
Ya, aku tidak punya banyak uang saat itu. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan ospek dan makan. Itu saja.

Me time? Refreshing? Tidak sempat terpikirkan.

Selama beberapa hari aku memendam semua masalahku sendiri. Hanya satu teman dekatku yang tahu bahwa keadaanku sedang buruk. Ibuku melarangku bercerita tentang masalah pribadi pada orang lain dan aku menyanggupinya.

Namun beberapa hari setelah itu, aku tidak kuat. Rasanya bangun tanpa semangat sangat menyiksa. Terlebih kegiatan PKKMB yang padat membuatku semakin muak. Aku lelah dan mencapai batas akhir. Kuberanikan diri untuk menelepon ibuku. Tapi, saat tersambung, aku tidak bisa berbicara, kelu rasanya. Aku sangat rindu bahkan dengan suara ibuku sendiri. Aku hanya diam sambil menangis di telepon. Ibuku jadi khawatir dengan keadaanku. Maaf, ya, Bu.

Selama mungkin 2 minggu aku seperti itu. Tidak bersemangat, lelah, kesal, bercampur menjadi satu. Namun lama kelamaan semuanya membaik. Aku mulai bisa berbaur dengan orang lain. Aku mulai merasa damai di kamarku. Mulai berkenalan dengan orang baru dan menyerap ilmu baru. Walaupun kadang masih menangis tanpa alasan, setidaknya aku merasa aku mulai membaik dan aku mampu menjalaninya seperti orang-orang lain.

Entah sampai kapan perasaan ini akan berlangsung, tapi semoga saja mampu menjalaninya.

Ini adalah fotoku dan teman-teman baruku, Studi Kejepangan Universitas Airlangga 2019.
Maaf, aku maba norak, hehehe..




Senin, 08 April 2019

Terima Kasih!

Hai, apa kabar?
Ingat nggak, saat kita pertama masuk SMA? Tahun 2016.
Sudah lama, ya?
Saat MPLS, MOGD, lalu pembagian kelas.
Dulu, awalnya kelas X IPS 2 susunannya tidak seperti ini.
Tapi, hidup butuh sirkulasi seperti halnya udara.
Ada yang datang dan pergi.
Sampai akhirnya inilah formasi terakhir kita. (Walaupun ada yang ngeselin, pulang duluan)
Ya, sekarang 2019 dan tahun ajaran baru akan dimulai.
Itu berarti masa kita disini telah berakhir.
Sedih, ya? Tapi mungkin senang juga, karena akan ada kesempatan untuk mengenal dunia baru dan teman yang baru.
Teman-teman,
Sebentar lagi kita akan merasakan susahnya merencanakan jadwal untuk bertemu.
Sementara kita di sini 3 tahun malah suka bolos. :D
Kita juga akan jarang bertemu.
Jarang sekali.
Mungkin hanya 1-2 kali setahun.
Tapi tidak apa-apa.
Karena hidup selalu berjalan ke depan, tidak akan kembali ke belakang.
Jadi, bertemunya kita nanti hanya akan mengenang yang dulu, sambil bercerita "Sekarang sedang sibuk ngapain?"
Aku nggak berharap kalian untuk ingat aku terus.
Aku juga nggak berharap untuk mengulangi masa ini.
Aku hanya ingin berterima kasih saja.


Sukses, ya!
Sebenarnya aku mau cantumkan nama-nama kalian biar aku bisa ingat lagi nanti, tapi rasanya nggak enak saja.
Foto ini diambil sesaat setelah UNBK berakhir.
Tampak wajah-wajah yang senang, walaupun sebenarnya pasrah juga. Hahaha..
Ini adalah momen kita memakai seragam SMA untuk terakhir kalinya.
Setelah ini, kita mau ke mana?
Ada yang pergi melanjutkan studi, bekerja, dan lain-lain.

Untuk yang terakhir, terima kasih, ya. <3

Senin, 17 Desember 2018

Nasionalisme?

Biar saja ku tak seharum bunga mawarTapi slalu kucoba tuk mengharumkanmuBiar saja ku tak seelok langit soreTapi slalu kucoba tuk mengindahkanmu
Kupertahankan kau demi kehormatan bangsaKupertahankan kau demi tumpah darahSemua pahlawan-pahlawanku


Merasa tidak asing dengan lagu ini? Ya, lagu dari Cokelat ini mungkin adalah salah satu lagu yang menggambarkan kobaran semangat nasionalisme di tengah kawula muda.

Semangat masih merupakan bagian penting dari nasionalisme dan patriotisme. Kini, apakah masih dapat dengan mudah kita temukan di lingkungan sekitar?

Dengan adanya arus globalisasi yang sangat cepat ini, dimana kita bisa pesan mie ayam hanya dengan beberapa sentuhan di layar gadget, saya mengakui sulit rasanya mencari rasa nasionalisme dan patriotisme dapat ditemukan.

Bisa dilihat dari pola konsumerisme, westernisasi, sikap apatis, dan hedonisme yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Saya bersyukur karena akhirnya ilmu Sosiologi dalam buku paket tidak sia-sia. Hehehe...

Sejujurnya, 2-3 tahun lalu, saya kurang dapat memahami ilmu sosiologi karena kurangnya contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kurang piknik sepertinya.

Tapi, sekarang? Wah, paling relate dengan kehidupan sehari-hari. Sampai saat pergi ke suatu tempat, sering terbesit dalam benak saya, "wah, ini contoh konsumerisme, hedonisme, dan semacamnya, ya...".

Sekarang ini, gaya hidup individualis dan apatis sepertinya sedang trend, tak dapat dielakkan ini adalah salah satu dampak tersebarnya paham liberalisme yang mengatasnamakan kebebasan.

Tantangan-tantangan ini tentu harus menjadi perhatian di masa sekarang. Terancamnya jati diri bangsa dan terkikisnya nasionalisme-patriotisme merupakan bentuk nyata dari dampak negatif globalisasi. Memang bukan hal yang mudah untuk membendung ini semua. Namun, jika terdapat kemauan dan tekad yang kuat, ini bukanlah masalah yang sulit.

Persatuan dan kesatuan bangsa harus kembali digalakkan. Adanya tahun politik dan penyebaran berita hoax menambah pelik permasalahan.

Kita harus segera bangkit!

Mulailah peduli dengan lingkungan sekitar, mulailah bercengkerama (tentunya membicarakan hal yang bermanfaat dan ora julid tok isine) dengan tetangga, carilah teman berdiskusi, rancanglah rencana-rencana dan impianmu untuk dirimu, bangsamu, dan negaramu.

Buat dirimu menyatu dengan Indonesia.

Beri aku sepuluh pemuda,niscaya akan kuguncangkan dunia.-Ir. Soekarno

Rabu, 10 Oktober 2018

Aku, Tidak Normal?

Hari ini pelajaran olahraga. Semua nampak bersemangat. Aku pun juga bersemangat. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu pelajaran yang menyenangkan.

Tapi, aku punya masalah. Kelainan di tulang belakang membuatku tak leluasa menggerakkan tubuh. Aku mengetahuinya saat kelas XI. Sungguh menyedihkan awalnya. Yah, sampai sekarang masih terdengar menyedihkan sih.

Jadi, aku adalah penderita skoliosis. Memang tidak terlalu besar sih derajat kemiringannya. Tapi ini benar-benar membuatku tidak percaya diri. Tulang belikat yang tidak sama. Mata yang tidak sama. Tubuh yang kurus, karena nafsu makan sedikit. Sering sakit-sakitan. Haha, you can call me whatevs you want.

Awalnya dari sejak lama sekali aku menyadari tulang belikat yang tidak sama. Apalagi saat 'nyender', terasa sekali. Tapi aku bersikap biasa saja karena memang aku tidak tau. Mataku tidak sama, mungkin tidak terlalu kelihatan. Tapi.. Ini terasa sekali saat aku memakai kacamata atau foto di HP. Aku mulai merasa ada sesuatu yang salah. Tidak seharusnya seperti ini.

Sampai pada suatu hari, saat praktek shalat di MI..
Ternyata aku tidak bisa ruku' dengan posisi 90 derajat seperti teman-teman lain. Di punggungku ada punuknya. Aku bingung, aku kenapa? Dan itu ditekan-tekan sama guru. And it's totally hurts. Aku mencoba buat melupakan itu.

Kedua kalinya, praktek shalat di MTs..
Masih berlanjut. Masih tidak bisa ruku' dengan posisi seperti teman-teman yang punggungnya lurus semua. Punggungku masih ada punuknya. Dan ditekan-tekan lagi sama guruku, dan tentu saja rasanya lebih sakit. Aku menangis, sedikit. Aku malu. Kenapa aku begini?

Satu siang bolong saat kelas XI. Ibuku semakin menyadari ada yang salah dengan punggungku. Perbedaan tulang belikat yang cukup terlihat apalagi kalau salah pilih baju. Saat itu Ibu sudah menawarkan untuk pergi ke dokter. Tapi aku menolak dengan alasan "masih banyak yang harus dikerjakan, buang-buang waktu nunggu dokter yang gak jelas." karena yah, April baru operasi. Masa September sudah main ke rumah sakit lagi?

Setelah berminggu-minggu, akhirnya aku mau diperiksa ke dokter. Dengan catatan, meninggalkan semua tetek bengek sekolah dan ekskul yang mau punya hajat. Yah, gak apa-apa deh. Biar tau apa yang salah sama diriku.

Sehari.. Belum ketemu dokter.
Dua hari.. Bertemu dokter, ruang rontgen tutup.
Tiga hari.. Proses rontgen dan diagnosa.

You know what? Aku nangis sejadi-jadinya. Lihat tubuhku yang gak sempurna. Aku hancur. Aku malu. Aku bingung. Aku nggak tau harus cerita ke siapa. Aku di titik terendah setelah ditekan dimana-mana. Sekolah, rumah, teman, semuanya.

Bahkan dokter memberi surat rujukan untuk dibawa ke suatu RS di Malang yang aku tau, harganya gak murah sama sekali. Aku ngerasa gak berguna banget dan cuma nyusahin orang-orang di sekitarku. Aku merasa kayanya kalau kemarin-kemarin aku mati sepertinya akan lebih baik.

Orang tua mulai menekan, dan sampai bilang, "Kamu tuh sakit mulu, apa nggak kasihan sama bapakmu?"

Dari situ aku berpikir, aku nggak minta diciptakan buat sakit-sakitan kaya gini. Aku mulai jahat sama diri sendiri. Setiap hari aku 'dengan sengaja' nyiksa diri sendiri dengan kegiatan yang padat, tekanan-tekanan dari sekitar, pertemanan yang tidak baik, ngerusak pola makan dan tidur, dan bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri.

Saat itu aku merasa kalau aku mati, semuanya akan jadi lebih baik.

Tapi, sepertinya tidak.

Akibat pola hidup selama 1-2 bulan 'toxic' abis-abisan, untuk pertama kali maag kambuh dan parah.

Pada akhirnya, ya berobat lagi. Ngabisin duit orang tua lagi. I'm done.

Langsung saat itu, entah kenapa aku mulai berubah. Kalau sekarang aku masih nyusahin orang lain, setidaknya besok aku tidak akan seperti hari ini. Walaupun sampai saat ini masih saja menyusahkan orang lain di sekitar.. Tapi aku tetap berusaha.

Semua berimbas ke nilai akademis. Hancur sehancur-hancurnya. I'm totally broken. Merosot jauh dan (katanya) sampai jadi bahan desas-desus guru di ruangnya. Oh, I'm insane.

Perlahan, aku mulai mau untuk berubah. Berusaha meninggalkan semua 'depresi-depresi' itu bagaimanapun caranya. Me time, refleksi diri, do something crazy, dan lain sebagainya. Walaupun sampai sekarang masih tetap sakit-sakitan, setidaknya tak usah bertemu dokter, aku senang.

Tapi, ada beberapa hal yang masih belum bisa aku atasi sampai sekarang.

Tatapan sinis, jijik, sekaligus kasihan dari orang-orang. Bisakah aku tidak menerima itu lagi?
Aku setiap hari seperti ini. Sedikit pucat dan nampak lemas. Tapi tak apa, yang penting aku lebih memiliki semangat hidup daripada hari kemarin.

Tatapan kasihan itu, I don't need it.

Tapi sejujurnya, aku masih sedih dan malu jika harus menggerakkan tubuh bersama-sama dengan orang lain. Seperti pelajaran olahraga ini. Aku malu saat aku tidak bisa praktek suatu gerakan karena aku tidak kuat melakukannya. Dan tatapan-tatapan orang lain membuatku risih. Pelajaran ini sangat menarik, sebelum aku mengetahui apa yang terjadi pada diriku.

Aku malu saat teman-teman bertanya, "Kamu kenapa nggak ikut praktek?", atau saat jadwal berenang dan semuanya hadir, saat yang lain bermain bersama teman, dan aku sendiri mencoba terapi bersama instruktur.

Aku merasa asing.
Aku, apakah aku cacat?